Jembatan Merah yang bersejarah ”JEMBATAN MERAH sungguh gagah, berpagar gedung indah. Setiap hari yang melintasi, silih berganti…”

SURABAYA – Itulah beberapa kata syair langgam Jembatan Merah karya Gesang. Saat mengarang lagu itu, Gesang memang mengetahui detail tentang Jembatan Merah, sebuah jembatan di Surabaya yang menjadi saksi perjuangan arek-arek Suroboyo di zaman penjajahan.

Pada usia Surabaya yang ke-712 tahun pada 31 Mei 2005 lalu, Jembatan Merah memang masih gagah, meski mulai keropos.
Jembatan Merah menghubungkan antara Jalan Rajawali dan Jalan Kembang Jepun. Kawasan itu merupakan salah satu pusat perniagaan di Surabaya. Di Jalan Rajawali berdiri berbagai gedung perkantoran, perbankan dan lain-lain. Juga Hotel Ibis Surabaya berdiri kokoh di jalan tersebut. Sejak beberapa tahun lalu, berdiri Jembatan Merah Plasa dan di depannya menjadi terminal bayangan kendaraan angkutan kota, dan bus kota, sehingga terlihat sangat semrawut.
Sedangkan di sebelah timur jembatan adalah jalan Kembang Jepun. Di jalan ini merupakan pusat perniagaan, yang oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dijadikan kawasan pecinan. Di lokasi ini mulai pagi hingga sore, terlihat sangat ramai, macet dan semrawut. Tetapi kalau malam, sangat sepi karena tidak ada aktivitas apa pun di sini.
Untuk menghidupkan kawasan Kembang Jepun, sejak tahun 2003 lalu disulap menjadi pusat makanan Surabaya, atau yang dikenal dengan Kya-Kya. Sepanjang jalan yang berjarak sekitar 300 meter itu, digarap bak kampung pecinan, mulai pintu masuk hingga keluar. Di atasnya penuh dengan lampion dengan lampu warna merah yang khas. Di sini kini menjadi tempat kongkow-kongkow yang nyaman sambil menikmati makanan. Kalau hujan, semuanya akan semburat, karena Kya-Kya hanyalah beratapkan langit.
Salah seorang wisatawan Belanda, Van Rojk, saat mengunjungi Surabaya akhir pekan lalu, mengaku kecewa dengan penampilan di sekitar Jembatan Merah saat ini. Sebab lokasi bersejarah itu sudah berubah total, meski beberapa ”gedung megah” peninggalan Belanda masih berdiri kokoh di sana.
”Lokasi ini tidak ditata dengan baik. Sayang sekali, padahal kalau mau ditata dengan baik sesuai dengan tata kota modern, di kawasan ini sangat indah. Kebesaran nama Jembatan Merah juga mengingatkan kita atas tewasnya Brigjen Mallaby pada 30 Oktober 1945,” kata Van Rojk dengan nada kecewa. Van Rojk mengaku dirinya sejak muda berada di Surabaya, tinggal di kawasan peneleh. Tetapi sejak tahun 1951, ia kembali ke negaranya.
Jembatan MerahIa mengatakan, keberadaan Jembatan Merah saat Surabaya masih dikuasai Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), menjadi sarana perhubungan yang sangat vital, sehingga sangat diperhatikan oleh pemerintah. Tidak heran jika gedung keresidenan Surabaya saat itu dibangun tepat di ujung barat jembatan, agar pemerintah bisa langsung mengawasi kebersihan, keamanan dan ketertiban di sekitarnya.
Karena menjadi pusat niaga, kawasan tersebut memiliki kantung-kantung tempat tinggal yang terpisah, di mana orang-orang Eropa berada di bagian barat Gedung Keresidenan, Cina di seputar Jalan Kembang Jepun, serta kantung Melayu dan Arab di sisi utaranya atau sekitar kampung Ampel. Tetapi kini gedung kerisidenan Surabaya tempo doeloe itu kini sudah tidak ada lagi, digusur, diratakan dengan tanah untuk dibangun jalan lurus dari Jalan Rajawali.

Selalu Cat Merah
Sesuai dengan namanya, Jembatan Merah hingga kini selalu dicat dengan warna merah. Tetapi karena tidak terlalu diperhatikan oleh Pemkot Surabaya, tidak heran pagar besi di kedua sisi jembatan sudah banyak yang berkarat dan keropos. Biasanya, menjelang peringatan Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 Nopember, barulah Jembatan Merah dibersihkan, dicat dan diperindah.
Di siang hari, trotoar pagar Jembatan Merah menjadi tempat mangkalnya puluhan tukang becak. Mereka memilih di situ, karena banyak orang yang lalu lalang, sehingga rezeki pun akan datang. ”Kalau tidak ada polisi, kita mangkal di sini. Jika polisi datang, kita akan pindah. Polisinya pergi, kita mangkal lagi di Jembatan Merah,” kata Sokib, tukang becak yang mangkal di situ.
Seorang veteran anggota Legium Veteran Republik Indonesia (LVRI) Jawa Timur, Sumarmo, mengatakan, dulu Jembatan Merah menjadi salah satu pelabuhan mini dari transportasi Sungai Kalimas. ”Kita dulu bisa naik perahu niaga dan bisa turun di bawah Jembatan Merah. Biasanya orang pribumi ke Jembatan Merah untuk belanja kain untuk pakaian, karena di Kembang Jepun banyak penjual kain yang harganya murah,” jelasnya.
Tetapi, kenangnya, saat itu Kalimas benar-benar bersih, airnya jernih dan cukup dalam. ”Kini semuanya sudah berubah. Air Kalimas khususnya di bawah Jembatan Merah sangat kotor, jorok, dan sangat dangkal. Terang saja sudah sulit dilalui oleh perahu seperti dulu,” kata Sumarmo yang mengaku ikut berjuang melawan Sekutu di sekitar Jalan Pahlawan Surabaya.

Bangunan Tua yang Tersisa
Meski sudah banyak yang berubah, ada beberapa ”gedung megah” peninggalan kolonial Belanda yang memagari Jembatan Merah. Di antaranya adalah gedung Perusahaan Asuransi Jiwa Fa. Froser Eaton & Co yang dibangun sekitar tahun 1911, kini digunakan oleh PT Persero Asuransi Jiwasraya.
Hotel Ibis terlihat tampil menawan dengan tambahan di bagian depan bangunan aslinya. Juga Gedung Internationale Credit en Handelvereeniging Rotterdam (Internatio) buatan tahun 1929 yang saat ini digunakan sebagai Kantor PT Tjipta Niaga.
Kalau dirunut ke selatan, beberapa gedung lama masih tersisa, seperti gedung pos dan giro, gedung telegrap, gedung bank mandiri, gedung percetakan Brantas dan gedung Pemprov Jawa Timur. Semuanya masih terawat rapi, karena hingga saat ini digunakan setiap hari.
Pemkot Surabaya tampaknya tidak terlalu ambil pusing dengan kondisi gedung-gedung tua di sekitar Jembatan Merah. Keberadaannya tertutup oleh bangunan baru yang lebih modern, seperti Jembatan Merah Plasa. Hal ini tidak lepas dari pengaruh modernisasi yang sangat kuat, ditunjang oleh perkembangan perekonomian yang semakin pesat.
Tetapi apakah nantinya warga Surabaya akan kehilangan sejarahnya? Khususnya tentang Jembatan Merah? Mungkin pada saatnya nanti lirik lagu Jembatan Merah karya Gesang hanya menjadi hiburan, bukan lagi menjadi sejarah tentang Jembatan Merah di masa lalu. Di usianya yang ke-712 tahun, Surabaya semakin tua, dan mungkin saja akan semakin kehilangan romantisme sejarah Jembatan Merah.

Sumber: Sinar Harapan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation