Monthly Archive for June, 2008

Rumah HOS Cokroaminoto di Peneleh

admin
Posted by admin June 19, 2008
Categories: Peneleh

Sebagai kota berjuluk Kota Pahlawan, Surabaya menyimpan banyak petilasan bersejarah. Maka, kunjungilah Tugu Pahlawan, Gedung Negara Grahadi, dan ini yang belum banyak diketahui khalayak tempat tinggal Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto. Tokoh ini mempunyai andil besar terbentuknya negara kesatuan Republik Indonesia.

Rumah BersejarahRumah peninggalan HOS Cokroaminoto
di Jl. Peneleh VII no 29-31 Surabaya

Rumah tembok dengan atsitektur Jogjakarta bercat warna putih dan hijau tua iru merupakan tempat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Rumah itu banyak “melahirkan” tokoh pencetus proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
Rumah tua yang masih terawat apik itu mudah ditemukan, letaknya di Jl Peneleh VII Nomor 29-31 dekat dengan toko buku Peneleh (salah satu toko buku tua yang ada di Surabaya, tunggu di artikel selanjutnya) di Kecamatan Genteng Surabaya, diperkirakan dibangun pertengahan tahun 1800. “Meskipun letaknya di tengah-tengah kota, tapi belum banyak diketahui masyarakat,” ujar Imma Nadima Simbolon yang sehari-hari menjaga rumah itu.
Menurut Imma, perempuan berusia sekitar 70-an, Cokroaminoto yang mempunyai panggilan “raja tanpa mahkota”, sebenarnya dilahirkan di kota gudeg Jogjakarta pada 16 Agustus 1883. Sekitar tahun 1900, ia hijrah ke kota Surabaya untuk berjuang bersama-sama sahabatnya guna melepaskan Indonesia dari cengkeraman penjajah Belahda. Di Surabaya ia menempati rumah di Peneleh Gang VII yang terletak di tepi Kali Mas. Tahun 1931 ia kembali ke Jogja dan wafat di sana 17 Desember 1934 dan dimakamkan di Jogja.

Kaum Muda
Di rumah sederhana tanpa halaman inilah Cokroaminoto sepanjang kurun waktu 1905 -1930 sering berkumpul dan berdiskusi dengan kaum pemuda pejuang pergerakan dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka membangun tekat dan cita-cita terbentuknya negara Indonesia merdeka.
Para tokoh pejuang pergerakan kemerdekaan yang pernah bergabung dan berjuang bersama Cokroaminoto antara lain H Agus Salim, Tanmalaka, Subandrio, Abdul Gani, Setiyobudi, Dr Soetomo, Ki Hajar Dewantoro, Multatuli, sang Proklamator Kemerdekaan Soekarno dan tokoh-tokoh yang anti penjajah Belanda. Mereka berjuang demi terwujudnya negara kesatuan Indonesia melalui politik.
Mereka lalu mendirikan Partai Serikat Islam Indonesia (PSII). Partai ini merupakan salah satu partai Islam yang berdiri sebelum Indonesia merdeka.
Masih menurut Imma, rumah bersejarah itu, selain pernah ditempati HOS Cokroaminoto, juga pernah didiami Soekarno. Bahkan di rumah inilah pemuda Soekarno menghabiskan masa remajanya bersama teman-teman seperjuangnya. Di rumah itu ia menamatkan sekolahnya setingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah tingkat. Soekarno tentu saja juga belajar mendalami ilmu filsafat dan ilmu berpidato dari Cokroaminoto.
Di rumah Peneleh itu pula pemuda Soekarno mempersunting putri Cokroaminoto yang bernama Utari. Setalah itu Presiden pertama iru hijrah ke kota kembang Bandung untuk meneruskan studinya.
Rumah itu luas seluruhnya hanya 110 meter, bangunannya terbuat dari tembok batu bata terdiri dua lantai. Di lantai bawah terdapat tiga kamar tidur dan satu ruang tamu, satu dapur dan satu kamar mandi. Sedangkan lantai atas cuma ada satu kamar tidur sekaligus kamar belajar Soekarno. Pintu, jendela dan pagarnya terbuat dari kayu jati dan kayu kamper.
Di kamar-kamar itu tidak ada lagi perabot rumah tangga seperti kursi, meja, atau dipan. Yang masih bisa dilihat “bekasnya” hanya foto-foto HOS Cokroaminoto, Soekarno, Ki hajar Dewantoro, H Agus salim, Tan Malaka, Dr Soetomo, Subandrio, Abdul Gani, Utari, dan foto tokoh-tokoh pergerakan nasional menuju Indonesia merdeka yang terpampang di setiap dinding kamar.

Hari Pahlawan
Petilasan tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia di Surabaya biasa dikunjungi cucu dan cicit mantan pejuang kemerdekaan pada Mei, Juli, dan Agustus. Pada hari-hari biasa yang berkunjung ke rumah tua ini hanya pelajar, mahasiswa, dan para memuka masyarakat.
Menurut salah satu tokoh masyarakat Peneleh, H Said (80), letak rumah bersejarah itu memang sangat strategis. Gangnya berhadapan langsung dengan jembatan di atas Kali Mas yang menghubungkan Jl Peneleh dan Jl Gembong Tebasan. Dari Jembatan Peneleh ke arah selatan akan menuju Gedung Negara Grahadi yang merupakan pusat pemerintahan penjajah Belanda. Dari Peneleh ke arah utara sekitar satu kilo meter adalah Tugu Pahlawan dan kantor Gubernur Jatim.
Di sekitar tigu paglawan, Jembatan Merah dan sekitarnya inilah pernah terjadi pertempuran hebat antara Tentara Republik Indonesia melawan tentara sekutu Belanda Inggris pada 10 Nopember 1945. Untuk mengenang pertempuran itu pemerintah menetapkan 10 Nopember sebagai Hari Pahlawan.
Source: d-infokom-jatim.go.id

Read More | No Comments →

Makam Peneleh Jadi Wisata Historis

admin
Posted by admin June 19, 2008
Categories: Peneleh

SURABAYA - Kompleks Pemakaman Belanda yang lazim disebut dengan Makam Peneleh di kawasan Undaan segera dipugar. Pemkot berencana merombaknya menjadi kawasan wisata bernilai historis.

Saat ini, dinas kebersihan dan pertamanan (DKP) sedang menggodok konsep wisata di kuburan yang aktivitas pemakamannya sudah vakum sejak 1955 itu. “Konsep desainnya kami lombakan untuk berbagai universitas,” kata Tri Rismaharini, kepala DKP.

Dia menjelaskan, Pemerintah Belanda bekerja sama dengan PBB sudah memberikan sinyal akan mengubah fungsi makam menjadi public space. Sinyal itu disambut DKP dengan merumuskan konsep wisata historis.

Risma menerangkan, makam peninggalan Belanda tersebut kini sudah tidak lagi bisa dijadikan pemakaman. Sebab, makam yang luasnya mencapai 4,5 hektare itu sudah penuh. “Belanda dan PBB ingin merevitalisasi Makam Peneleh. Kami sepakat, perubahan wajah makam itu dilakukan untuk membawa manfaat lebih bagi warga sekitarnya,” paparnya.

Rencana tersebut diperkuat catatan tulisan tangan peninggalan Pemerintah Belanda yang disimpan DKP. Dalam catatan itu disebutkan bahwa tidak semua makam diisi jenazah. Untuk makam yang terisi jenazah, rangka akan dipindahkan ke sebagian tempat. Sebagian tempat yang tidak digunakan itulah yang akan dimanfaatkan.

“PBB juga bersedia mengeluarkan dana untuk menghubungi ahli waris dari makam-makam yang sudah terisi. Mereka sangat mendukung,” jelasnya.

Mungkin, makam itu akan dipugar dengan penambahan taman, sudut-sudut penjualan suvenir hasil usaha warga, arena jalan-jalan, dan perlengkapan rekreasi pasif lainnya, seperti tempat duduk. “Paling tidak, dengan rencana pemugaran tersebut, kondisi makam bisa lebih terawat. Saya yakin, keluarga penghuni makam juga menyambut baik langkah itu,” terang Risma. (ode)

Source: Jawa Pos
Foto: irfanwahyudi.multiply.com

Read More | No Comments →

Puskesmas Peneleh

admin
Posted by admin June 19, 2008
Categories: Peneleh

Puskesmas PenelehSekedar informasi untuk warga peneleh, informasi ini mungkin dapat berguna sewaktu-waktu jika ada keperluan untuk menghubungi/lokasi Puskesmas yang ada di wilayah Peneleh.

Nama :
Puskesmas Peneleh

Pimpinan:
drg. Sri Kadarwati

Area Kerja:
Surabaya Pusat,Kelurahan Peneleh,Kecamatan Genteng

Staff/Dokter:
Dokter Umum: 3 orang
Dokter Gigi: 2 orang
Perawat: 3 orang
Bidan: 3 orang

Alamat:
Jl. Makam Peneleh 35
Telp: 031-5343473
Hp: 08123098408

Read More | No Comments →

Bikang Peneleh ke Amerika

admin
Posted by admin June 19, 2008
Categories: Peneleh

Bikang PenelehJika berkesempatan main ke Surabaya, singgah juga ke jalan Peneleh. Daerah ini terkenal dengan kue bikang. Datanglah pagi-pagi maka Anda bisa melihat langsung cara pembuatannya, dengan sumba warna warni bikang terlihat menarik, aromanya sangat harum.

Panggangan bikang ini dipajang di depan pintu masuk, jadi begitu masuk langsung tercium bau harum.Seni membuat bikang ternyata pada saat “menjuntik” alias mengangkat dari panggangan.Inilah kunci bikang terlihat merekah bak bunga mekar. Menurut Yuwono Halim, pemilik toko kue Kartiko, membuat bikang tidak bisa ditinggal-tinggal atau disambi dengan pekerjaan lain, karena salah-salah bisa gosong, tidak hanya itu saja, jika kurang piawai mengangkat bikang dari panggangan maka bentuk bikang menjadi tidak karuan-karuan sehingga tidak merekah.

Masih di jalan Peneleh, ada satu toko yang merupakan pelopor bikang di daerah ini, tepatnya di jalan Peneleh 32-34 yaitu Lie Bie Kwan. Awalnya hanya berjualan di pinggir jalan, itu pun hanya menyediakan meja kecil untuk memajang barang dagangan. Kue andalan saat itu adalah bikang dan lapis. Sekarang ada sekitar 30 jenis kue yang dijual di toko ini tapi bikang tetap paling dicari pembeli.
Nah…sedikit membuka rahasia, gurihnya bikang terletak pada santan. Diambil dari kelapa tua, santan kental inilah yang digunakan. Inilah yang membuat rasa bikangnya terasa gurih. Harganya Rp 2 ribu per buah, dengan dua tawaran rasa yaitu cokelat dan pandan. Kue bikang asal Peneleh ini juga sudah melancong hingga ke Hongkong dan Amerika. Aiiih…saya aja b’lon ke sana mau dong jadi bikang hihihi… (jagomakan.blogspot.com)

Read More | No Comments →

Jembatan Merah, Riwayatmu Kini

admin
Posted by admin June 05, 2008
Categories: Peneleh

Jembatan Merah yang bersejarah ”JEMBATAN MERAH sungguh gagah, berpagar gedung indah. Setiap hari yang melintasi, silih berganti…”

SURABAYA – Itulah beberapa kata syair langgam Jembatan Merah karya Gesang. Saat mengarang lagu itu, Gesang memang mengetahui detail tentang Jembatan Merah, sebuah jembatan di Surabaya yang menjadi saksi perjuangan arek-arek Suroboyo di zaman penjajahan.

Pada usia Surabaya yang ke-712 tahun pada 31 Mei 2005 lalu, Jembatan Merah memang masih gagah, meski mulai keropos.
Jembatan Merah menghubungkan antara Jalan Rajawali dan Jalan Kembang Jepun. Kawasan itu merupakan salah satu pusat perniagaan di Surabaya. Di Jalan Rajawali berdiri berbagai gedung perkantoran, perbankan dan lain-lain. Juga Hotel Ibis Surabaya berdiri kokoh di jalan tersebut. Sejak beberapa tahun lalu, berdiri Jembatan Merah Plasa dan di depannya menjadi terminal bayangan kendaraan angkutan kota, dan bus kota, sehingga terlihat sangat semrawut.
Sedangkan di sebelah timur jembatan adalah jalan Kembang Jepun. Di jalan ini merupakan pusat perniagaan, yang oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dijadikan kawasan pecinan. Di lokasi ini mulai pagi hingga sore, terlihat sangat ramai, macet dan semrawut. Tetapi kalau malam, sangat sepi karena tidak ada aktivitas apa pun di sini.
Untuk menghidupkan kawasan Kembang Jepun, sejak tahun 2003 lalu disulap menjadi pusat makanan Surabaya, atau yang dikenal dengan Kya-Kya. Sepanjang jalan yang berjarak sekitar 300 meter itu, digarap bak kampung pecinan, mulai pintu masuk hingga keluar. Di atasnya penuh dengan lampion dengan lampu warna merah yang khas. Di sini kini menjadi tempat kongkow-kongkow yang nyaman sambil menikmati makanan. Kalau hujan, semuanya akan semburat, karena Kya-Kya hanyalah beratapkan langit.
Salah seorang wisatawan Belanda, Van Rojk, saat mengunjungi Surabaya akhir pekan lalu, mengaku kecewa dengan penampilan di sekitar Jembatan Merah saat ini. Sebab lokasi bersejarah itu sudah berubah total, meski beberapa ”gedung megah” peninggalan Belanda masih berdiri kokoh di sana.
”Lokasi ini tidak ditata dengan baik. Sayang sekali, padahal kalau mau ditata dengan baik sesuai dengan tata kota modern, di kawasan ini sangat indah. Kebesaran nama Jembatan Merah juga mengingatkan kita atas tewasnya Brigjen Mallaby pada 30 Oktober 1945,” kata Van Rojk dengan nada kecewa. Van Rojk mengaku dirinya sejak muda berada di Surabaya, tinggal di kawasan peneleh. Tetapi sejak tahun 1951, ia kembali ke negaranya.
Jembatan MerahIa mengatakan, keberadaan Jembatan Merah saat Surabaya masih dikuasai Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), menjadi sarana perhubungan yang sangat vital, sehingga sangat diperhatikan oleh pemerintah. Tidak heran jika gedung keresidenan Surabaya saat itu dibangun tepat di ujung barat jembatan, agar pemerintah bisa langsung mengawasi kebersihan, keamanan dan ketertiban di sekitarnya.
Karena menjadi pusat niaga, kawasan tersebut memiliki kantung-kantung tempat tinggal yang terpisah, di mana orang-orang Eropa berada di bagian barat Gedung Keresidenan, Cina di seputar Jalan Kembang Jepun, serta kantung Melayu dan Arab di sisi utaranya atau sekitar kampung Ampel. Tetapi kini gedung kerisidenan Surabaya tempo doeloe itu kini sudah tidak ada lagi, digusur, diratakan dengan tanah untuk dibangun jalan lurus dari Jalan Rajawali.

Selalu Cat Merah
Sesuai dengan namanya, Jembatan Merah hingga kini selalu dicat dengan warna merah. Tetapi karena tidak terlalu diperhatikan oleh Pemkot Surabaya, tidak heran pagar besi di kedua sisi jembatan sudah banyak yang berkarat dan keropos. Biasanya, menjelang peringatan Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 Nopember, barulah Jembatan Merah dibersihkan, dicat dan diperindah.
Di siang hari, trotoar pagar Jembatan Merah menjadi tempat mangkalnya puluhan tukang becak. Mereka memilih di situ, karena banyak orang yang lalu lalang, sehingga rezeki pun akan datang. ”Kalau tidak ada polisi, kita mangkal di sini. Jika polisi datang, kita akan pindah. Polisinya pergi, kita mangkal lagi di Jembatan Merah,” kata Sokib, tukang becak yang mangkal di situ.
Seorang veteran anggota Legium Veteran Republik Indonesia (LVRI) Jawa Timur, Sumarmo, mengatakan, dulu Jembatan Merah menjadi salah satu pelabuhan mini dari transportasi Sungai Kalimas. ”Kita dulu bisa naik perahu niaga dan bisa turun di bawah Jembatan Merah. Biasanya orang pribumi ke Jembatan Merah untuk belanja kain untuk pakaian, karena di Kembang Jepun banyak penjual kain yang harganya murah,” jelasnya.
Tetapi, kenangnya, saat itu Kalimas benar-benar bersih, airnya jernih dan cukup dalam. ”Kini semuanya sudah berubah. Air Kalimas khususnya di bawah Jembatan Merah sangat kotor, jorok, dan sangat dangkal. Terang saja sudah sulit dilalui oleh perahu seperti dulu,” kata Sumarmo yang mengaku ikut berjuang melawan Sekutu di sekitar Jalan Pahlawan Surabaya.

Bangunan Tua yang Tersisa
Meski sudah banyak yang berubah, ada beberapa ”gedung megah” peninggalan kolonial Belanda yang memagari Jembatan Merah. Di antaranya adalah gedung Perusahaan Asuransi Jiwa Fa. Froser Eaton & Co yang dibangun sekitar tahun 1911, kini digunakan oleh PT Persero Asuransi Jiwasraya.
Hotel Ibis terlihat tampil menawan dengan tambahan di bagian depan bangunan aslinya. Juga Gedung Internationale Credit en Handelvereeniging Rotterdam (Internatio) buatan tahun 1929 yang saat ini digunakan sebagai Kantor PT Tjipta Niaga.
Kalau dirunut ke selatan, beberapa gedung lama masih tersisa, seperti gedung pos dan giro, gedung telegrap, gedung bank mandiri, gedung percetakan Brantas dan gedung Pemprov Jawa Timur. Semuanya masih terawat rapi, karena hingga saat ini digunakan setiap hari.
Pemkot Surabaya tampaknya tidak terlalu ambil pusing dengan kondisi gedung-gedung tua di sekitar Jembatan Merah. Keberadaannya tertutup oleh bangunan baru yang lebih modern, seperti Jembatan Merah Plasa. Hal ini tidak lepas dari pengaruh modernisasi yang sangat kuat, ditunjang oleh perkembangan perekonomian yang semakin pesat.
Tetapi apakah nantinya warga Surabaya akan kehilangan sejarahnya? Khususnya tentang Jembatan Merah? Mungkin pada saatnya nanti lirik lagu Jembatan Merah karya Gesang hanya menjadi hiburan, bukan lagi menjadi sejarah tentang Jembatan Merah di masa lalu. Di usianya yang ke-712 tahun, Surabaya semakin tua, dan mungkin saja akan semakin kehilangan romantisme sejarah Jembatan Merah.

Sumber: Sinar Harapan

Read More | No Comments →

Sejarah Surabaya, Kota Pahlawan

admin
Posted by admin June 05, 2008
Categories: Peneleh

Surabaya secara resmi berdiri pada tahun 1293. Tanggal peristiwa yang diambil adalah kemenangan Raden Wijaya, Raja pertama Mojopahit melawan pasukan Cina.

Peranan Surabaya sebagai kota pelabuhan sangat penting sejak lama. Saat itu sungai Kalimas merupakan sungai yang dipenuhi perahu-perahu yang berlayar menuju pelosok Surabaya.

Kota Surabaya juga sangat berkaitan dengan revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia. Sejak penjajahan Belanda maupun Jepang, rakyat Surabaya (Arek Suroboyo) bertempur habis-habisan untuk merebut kemerdekaan. Puncaknya pada tanggal 10 Nopember 1945, Arek Suroboyo berhasil menduduki Hotel Oranye (sekarang Hotel Mojopahit) yang saat itu menjadi simbol kolonialisme. Karena kegigihannya itu, maka setiap tanggal 10 Nopember, Indonesia memperingatinya sebagai hari Pahlawan.

Bukti sejarah menunjukkan bahwa Surabaya sudah ada jauh sebelum zaman kolonial, seperti yang tercantum dalam prasasti Trowulan I berangka 1358 M. Dalam prasasti tersebut terungkap bahwa Surabaya (Churabhaya) masih berupa desa ditepian sungai Berantas sebagai salah satu tempat penyeberangan penting sepanjang sungai tersebut.

Surabaya (Churabhaya) juga tercantum dalam pujasastra Negara Kertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca tentang perjalanan pesiar baginda Hayam Wuruk pada tahun 1385 M dalam pupuh XVII (bait ke 5, baris terakhir)

Walaupun bukti tertulis tertua mencantumkan nama Surabaya berangka tahun 1358 M Pprasasti Trowulan) dan 1365 M (Negara Kertagama), para ahli menduga bahwa Surabaya sudah ada sebelum tahun-tahun tersebut.

Menurut hipotesis Von Faber, Surabaya didirikan tahun 1275 M oleh Raja Kertanegara sebagai tempat pemukiman baru bagi prajuritnya yang berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan tahun 1270 M. Hipotesis yang lain mengatakan bahwa Surabaya dulu bernama Ujung Galuh.

Versi lain mengatakan bahwa nama Surabaya berasal dari cerita tentang perkelahian hidup dan mati Adipati Jayengrono dan Sawunggaling. Konon setelah mengalahkan tentara Tartar, Raden Wijaya mendirikan sebuah Keraton di Ujung Galuh dan menempatkan Adipati Jayengrono untuk memimpin daerah itu. Lama-lama karena menguasai ilmu Buaya, Jayengrono makin kuat dan mandiri sehingga mengancam kedaulatan Majapahit. Untuk menaklukkan Jayengrono diutuslah Sawunggaling yang menguasai ilmu Sura. Adu kekuatan dilakukan dipinggir sungai Kalimas dekat Peneleh. Perkelahian adu kesaktian itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam dan berakhir dengan tragis, karena keduanya meninggal kehabisan tenaga.

Kata “ SURABAYA “ juga sering diartikan secara filosofis sebagai lambang perjuangan antara darat dan air, antara tanah dan air. Selain itu dari kata Surabaya juga muncul mitos pertempuran antara ikan Suro (Sura) dan Boyo (Baya atau Buaya), yang menimbulkan dugaan bahwa nama Surabaya muncul setelah terjadinya peperangan antara ikan Sura dan Buaya (Baya)

Supaya tidak menimbulkan kesimpang-siuran dalam masyarakat maka Walikotamdya Kepala Daerah Tingkat II Surabaya, dijabat oleh Bapak Soeparno, mengeluarkan Surat Keputusan No. 64/WK/75 tentang penetapan hari jadi kota Surabaya. Surat Keputusan tersebut menetapkan tanggal 31 Mei 1293 sebagai tanggal hari jadi kota Surabaya. Tanggal tersebut ditetapkan atas kesepakatan sekelompok sejarahwan yang dibentuk oleh Pemerintah Kota bahwa nama Surabaya berasal dari kata “Sura ing Bhaya” yang berarti “ Keberanian menghadapi bahaya “ diambil dari babak dikalahkannya pasukan Mongol oleh pasukan Jawa pimpinan Raden Wijaya pada tanggal 31 Mei 1293.

Tentang simbol kota Surabaya yang berupa ikan Sura dan Buaya terdapat banyak sekali cerita. Salah satu yang terkenal tentang pertarungan ikan Sura dan Buaya diceritakan oleh LCR. Breeman seorang pimpinan Nutspaarbank di Surabaya pada tahun 1918.

Masih banyak cerita lain tentang makna dan semangat Surabaya. Semuanya mengilhami pembuatan lambang-lambang Kota Surabaya. Lambang kota Surabaya yang berlaku sampai saat ini ditetapkan oleh DPDRS kota besar Surabaya yang keputusan No. 34/DPRS tanggal 19 Juni 1955 diperkuat dengan Keputusan Presiden R.I No. 193 tahun 1955 tanggal 14 Desember 1956.

Sumber: surabayacity.wordpress.com

Read More | No Comments →

Kya-Kya, Salah Satu Icon Surabaya

admin
Posted by admin June 05, 2008
Categories: Peneleh

Kya-Kya Kembang Jepun adalah sebuah kawasan (tepatnya sebuah jalan) sepanjang 750 meter dengan lebar 20 meter. Kawasan kota lama yang saat siang hari padat dengan perdagangan berskala grosir dan menjadi barometer perdagangan di kawasan Timur Indonesia (Katimin), semacam wallstreet di Amerika. Malam hari kini dipenuhi dengan seratus lebih pedagang makanan dan minuman, cinderamata dan peramal, hiburan seni budaya bahkan olahraga (tayangan dan langsung, seperti pertandingan tinju dll) dan menjadi tempat jalan kaki terpanjang dan teraman di Surabaya (walkstreet) yang kental bernuansa Tiongkok.

Saat ini Jalan Kembang Jepun kembali mendunia ketika fasilitas yang bertajuk Kya-Kya Kembang Jepun telah menjadi ikon baru kota Surabaya.
Pusat Kya-kya Kembang Jepun Surabaya memang bukan sekedar pusat makanan dan minuman biasa, dia hadir dengn semangat-semangat seperti:

* Mengakar pada sejarah.
Kembang jepun memang bukan wilayah yang dibangun ‘kemarin’. Karakter ‘Pecinan’-nya telah terbangun bahkan berabad umurnya. Perjalanan perannya yang kental sebagai pusat perdagangan dari jaman ke jaman menancapkan cengkraman kuat pada bumi utara Surabaya. Kekuatan itulah yang memang digugah kembali melalui sosok Kya-kya Kembang Jepun.
* Ber-Karakter yang dominan
Wajah Pecinan yang khas telah menjadi ‘the spirit of place’ yang tidak bisa dan tidak mungkin dipungkiri atau ditolak keberadaannya . Bangunan-bangunan disekitar sisi Selatan Jalan Kembang Jepun masih menyisahkan tetenger bahwa pengaruh budaya tiongkok sangat dominan disana. Bahkan masih ditemukan bumbungan (ujung nok) yang bermahkota sepasang kepala naga. Beberapa bangunan dipelosok-pelosok kampung dikawasan Kembang Jepun beraduk antara berwajah kolonial dan berwajah tiongkok.
Ciri khas yang kuat dari sentra makanan dan minuman ini juga di perkuat oleh nama yang di sandangnya. Kya-kya secara denotatif artinya ‘jalan-jalan’. Berasal dari bahasa “Hok-Kian”, sebuah dialek dari kawasan Selatan Tiongkok.

* Momentum
Hanya dalam waktu 2 (dua) minggu untuk diskusi dan 3 (tiga) minggu untuk pelaksanaan, kya-kya Kembang Jepun di wujudkan. Peringatan Hari ulang tahun ke 710 kota Surabaya, yang jatuh pada tanggal 31 Mei 2003 diambil sebagai momentum yang sangat tepat dan strategis untuk menyerahkan sumbangsih warga kepada kota tercintanya.

Sumber: eastjava.com

Read More | No Comments →

Jembatan Peneleh

admin
Posted by admin June 04, 2008
Categories: Peneleh

Salah satu tempat yang menarik di Peneleh yaitu jembatan peneleh yang menghubungkan antara Peneleh dengan Gemblongan, jembatan ini berdiri diatas kali (Sungai, red) Peneleh. Jembatan ini merupakan salah satu jembatan tertua yang ada di Surabaya, selain Jembatan Gubeng (tapi sudah mengalami renovasi besaѶan dan sudah berubah art decor desain (maaf kurang faham mengenai design/arsitektur, mungkin kalau ada yang tahu mohon dishare aja di website ini).
Jembatan Peneleh ini dibangun sebelum tahun 1920 (berdasarkan foto yang dibawah ini yang diambil ketika tahun 1920). Desain dan bentuk Jembatan Peneleh ini sampai sekarang tidak mengalami perubahan bentuk tapi sudah mengalami renovasi besaran ketika tahun 1990an.

Jembatan PenelehFoto tahun 1920,  Jembatan Peneleh (kanan), Jalan Kramat Gantung, Jalan Gemblongan, Alun-Alun Contong.

'Kali' (Sungai) PenelehFoto tahun 1920, sungai/kali Peneleh, Terlihat Jembatan Peneleh dan Kramat Gantung (kanan). Foto diambil dari arah utara ke selatan (tepian jalan setapak) kali. Sekarang Pasar Buah / dekat Peneleh Gang X.

Sumber: mmedia

Read More | No Comments →