Rumah HOS Cokroaminoto di Peneleh
Sebagai kota berjuluk Kota Pahlawan, Surabaya menyimpan banyak petilasan bersejarah. Maka, kunjungilah Tugu Pahlawan, Gedung Negara Grahadi, dan ini yang belum banyak diketahui khalayak tempat tinggal Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto. Tokoh ini mempunyai andil besar terbentuknya negara kesatuan Republik Indonesia.
Rumah peninggalan HOS Cokroaminoto
di Jl. Peneleh VII no 29-31 Surabaya
Rumah tembok dengan atsitektur Jogjakarta bercat warna putih dan hijau tua iru merupakan tempat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Rumah itu banyak “melahirkan” tokoh pencetus proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
Rumah tua yang masih terawat apik itu mudah ditemukan, letaknya di Jl Peneleh VII Nomor 29-31 dekat dengan toko buku Peneleh (salah satu toko buku tua yang ada di Surabaya, tunggu di artikel selanjutnya) di Kecamatan Genteng Surabaya, diperkirakan dibangun pertengahan tahun 1800. “Meskipun letaknya di tengah-tengah kota, tapi belum banyak diketahui masyarakat,” ujar Imma Nadima Simbolon yang sehari-hari menjaga rumah itu.
Menurut Imma, perempuan berusia sekitar 70-an, Cokroaminoto yang mempunyai panggilan “raja tanpa mahkota”, sebenarnya dilahirkan di kota gudeg Jogjakarta pada 16 Agustus 1883. Sekitar tahun 1900, ia hijrah ke kota Surabaya untuk berjuang bersama-sama sahabatnya guna melepaskan Indonesia dari cengkeraman penjajah Belahda. Di Surabaya ia menempati rumah di Peneleh Gang VII yang terletak di tepi Kali Mas. Tahun 1931 ia kembali ke Jogja dan wafat di sana 17 Desember 1934 dan dimakamkan di Jogja.
Kaum Muda
Di rumah sederhana tanpa halaman inilah Cokroaminoto sepanjang kurun waktu 1905 -1930 sering berkumpul dan berdiskusi dengan kaum pemuda pejuang pergerakan dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka membangun tekat dan cita-cita terbentuknya negara Indonesia merdeka.
Para tokoh pejuang pergerakan kemerdekaan yang pernah bergabung dan berjuang bersama Cokroaminoto antara lain H Agus Salim, Tanmalaka, Subandrio, Abdul Gani, Setiyobudi, Dr Soetomo, Ki Hajar Dewantoro, Multatuli, sang Proklamator Kemerdekaan Soekarno dan tokoh-tokoh yang anti penjajah Belanda. Mereka berjuang demi terwujudnya negara kesatuan Indonesia melalui politik.
Mereka lalu mendirikan Partai Serikat Islam Indonesia (PSII). Partai ini merupakan salah satu partai Islam yang berdiri sebelum Indonesia merdeka.
Masih menurut Imma, rumah bersejarah itu, selain pernah ditempati HOS Cokroaminoto, juga pernah didiami Soekarno. Bahkan di rumah inilah pemuda Soekarno menghabiskan masa remajanya bersama teman-teman seperjuangnya. Di rumah itu ia menamatkan sekolahnya setingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah tingkat. Soekarno tentu saja juga belajar mendalami ilmu filsafat dan ilmu berpidato dari Cokroaminoto.
Di rumah Peneleh itu pula pemuda Soekarno mempersunting putri Cokroaminoto yang bernama Utari. Setalah itu Presiden pertama iru hijrah ke kota kembang Bandung untuk meneruskan studinya.
Rumah itu luas seluruhnya hanya 110 meter, bangunannya terbuat dari tembok batu bata terdiri dua lantai. Di lantai bawah terdapat tiga kamar tidur dan satu ruang tamu, satu dapur dan satu kamar mandi. Sedangkan lantai atas cuma ada satu kamar tidur sekaligus kamar belajar Soekarno. Pintu, jendela dan pagarnya terbuat dari kayu jati dan kayu kamper.
Di kamar-kamar itu tidak ada lagi perabot rumah tangga seperti kursi, meja, atau dipan. Yang masih bisa dilihat “bekasnya” hanya foto-foto HOS Cokroaminoto, Soekarno, Ki hajar Dewantoro, H Agus salim, Tan Malaka, Dr Soetomo, Subandrio, Abdul Gani, Utari, dan foto tokoh-tokoh pergerakan nasional menuju Indonesia merdeka yang terpampang di setiap dinding kamar.
Hari Pahlawan
Petilasan tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia di Surabaya biasa dikunjungi cucu dan cicit mantan pejuang kemerdekaan pada Mei, Juli, dan Agustus. Pada hari-hari biasa yang berkunjung ke rumah tua ini hanya pelajar, mahasiswa, dan para memuka masyarakat.
Menurut salah satu tokoh masyarakat Peneleh, H Said (80), letak rumah bersejarah itu memang sangat strategis. Gangnya berhadapan langsung dengan jembatan di atas Kali Mas yang menghubungkan Jl Peneleh dan Jl Gembong Tebasan. Dari Jembatan Peneleh ke arah selatan akan menuju Gedung Negara Grahadi yang merupakan pusat pemerintahan penjajah Belanda. Dari Peneleh ke arah utara sekitar satu kilo meter adalah Tugu Pahlawan dan kantor Gubernur Jatim.
Di sekitar tigu paglawan, Jembatan Merah dan sekitarnya inilah pernah terjadi pertempuran hebat antara Tentara Republik Indonesia melawan tentara sekutu Belanda Inggris pada 10 Nopember 1945. Untuk mengenang pertempuran itu pemerintah menetapkan 10 Nopember sebagai Hari Pahlawan.
Source: d-infokom-jatim.go.id














